Labels

Showing posts with label Insight. Show all posts
Showing posts with label Insight. Show all posts

Kehendak-Nya yang jadi

Halo semua! 
Apa kabar kalian semua? 
Semoga semua dalam keadaan baik dan dalam penyertaan Tuhan ya. :) 

Nah, kemarin kan aku cerita perihal hal di luar ekspektasi aku, seakan Tuhan mau tunjukkan kalau aku ga kuatir dan fokus kepada Tuhan, segala hal yang lain akan terurus dengan baik, Tuhan yang turun tangan, aku berserah aja.

Hari ini aku diingatkan kembali (sebenarnya kemarin pas denger kabar aku dikasih uang, uda langsung diingetin sih). Aku diingatkan untuk kembalikan perpuluhan dari uang yang baru aku terima itu. Rela ga aku lepas? Percaya kah kalau Tuhan sanggup untuk gantikan?
Nah, masalahnya aku bingung mau kasih ke gereja yang mana? Aku punya gereja sendiri, tapi ya dateng juga ke gereja si mama (ceritanya nemenin mama), jadi dalam 1 hari bisa ibadah di 2 gereja, haha.

Akhirnya daripada bingung, aku kasih aja lah ke 2 gereja. Masing - masing 10%. Jadi perpuluhan ke dua tempat. Hahaha. Uda niat. Bahkan aku nantangin mama untuk ikutan kasih perpuluhan. Tapi mama belum sungguh paham tentang perpuluhan, jadi belum kasih sebesar 10%, tapi at least sudah mau kasih lebih dari biasanya. Puji Tuhan!



Hari ini, unik sekali deh. Pas mau berangkat kerja, aku rasa uda akan terlambat nih. Uda mulai struggle. Trus mulai deh nego sama Tuhan, minta ga telat, haha. Lalu, saya dengar jelas, Dia berkata saya akan tiba jam berapa di kantor. Gak telat sih, cuma akan masuk jam toleransi keterlambatan. Aku nego, Tuhan tetap jawab waktu yang sudah Dia sebutkan. Aku nego 3x loh, haha. Dan finally aku deal lah di jam yang uda disebutkan Tuhan. Trus, pas di tengah jalan, aku diingetin, daripada khawatir telat, kenapa ga doa syafaat di sepanjang wilayah yang aku lalui?

Ya uda deh, aku nurut, aku doa syafaat untuk sepanjang wilayah yang aku lalui, dan aku mulai berasa bersemangat, lebih penuh dan lebih damai. Trus, pas uda lewatin daerah itu, jalanan mendadak lega nih, lancar, langsung mikir, "ah, bisa sampe lebih cepat dari yang Tuhan sebutkan nih", emang dasar ya saya  manusia bandel dan keras kepala. Gak lama lancar, macetnya luar biasa dong! Dan mendadak aku diingatkan, dan ini merupakan hikmat bagi aku.


"Kalau Tuhan sudah berkehendak saya tiba jam sekian di kantor, walau saya berangkat mepet, akan tiba jam segitu, walau saya berangkat lebih pagi, akan tetap tiba jam segitu juga. Misal aku berangkat kesannya mepet, bisa jadi jalanan mendadak lancar. Kalau saya berangkat lebih cepat, bisa jadi aku mengalami kendala di jalanan sehingga tetap saja tiba jam sekian"

Itu cuma contoh sederhana saja. Tapi saya percaya, hal tersebut berlaku untuk semua bagian kehidupan saya dan terhadap kehidupan saya secara pribadi. Biasa orang bertanya bagaimana mendengar suara Tuhan? Tapi, sungguh benar, pertanyaan yang lebih tepat adalah "Apakah kamu mau mendengarkan suara-Nya saat Dia berbicara kepadamu?"

Insight 24 July 2018 (part two) | Free will vs His will

Melanjutkan apa yang saya sampaikan kemarin di sini, hari ini saya usahakan sampaikan secara singkat dan tuntas, hehe. Setelah diingatkan untuk fokus hanya kepada Tuhan dan bukan kepada kekhawatiranmu/Mamon (baca atius 6:24 versi AMP untuk penjelasan lebih detail perihal mamon), diingatkan lagi bahwa sendi dunia ini sudah mau rontok, apa lagi yang sesungguhnya mau dikejar? Saya langsung terpikir, mau kejar mamon mau seperti apa lagi dan mau sebanyak apa? Jika bumi ini berlalu, apa gunanya pula mamon yang kita kejar itu?


Fokus kepada Tuhan. Tuhan tau apa yang kau butuhkan, dan Tuhan tau apa yang diinginkan dan dirindukan hatimu. Fokus kepada Tuhan, apa yang hatimu inginkan akan berbalik mengejar engkau.


Dan yang membuat saya lebih terkejut adalah saya sekilals sempat memikirkan perihal pasangan hidup, dan selang beberapa detik, pendetanya berkata bahwa tidak perlu khawatir dengan pasangan hidup, kok bisa pas bener. Berasa ditegor. Hehe.


Lalu, di tengah kekhawatiran dan ketakutan saya dalam menjalin hubungan, tiba-tiba saya mendapat pemikiran, seperti Tuhan berbicara kepada saya, karena rasanya saya ditenangkan. Saya dengar Dia menjelaskan kepada saya, pasangan hidup yang dari Tuhan, pasti yang terbaik dan semua ada di dalam rencana-Nya. Apakah kau percaya rancangan-Nya adalah yang terbaik? Apakah kau percaya bahwa Tuhan yang memegang kendali atas hidupmu?


Sebelumnya, saya khawatir akan keadaan hubungan yang hancur, ditambah lagi jaman now gitu, banyak banget kisah rumah tangga yang hancur, dan beberapa saya dengar sendiri dari orang-orang yang dekat dengan saya. Dan saya diingatkan lagi, manusia hanya bisa melihat 1 frame hidupnya dalam 1 waktu. Jika kamu liat secuplikan cerita atau hanya 1 episode saja, maka kelihatannya tidak baik. Tapi jika kau lihat dari keseluruhan cerita, bisa jadi apa yang terlihat tidak baik sesungguhnya membawa kebaikan.

Hey! Tuhan kita adalah Tuhan yang lebih dari mampu untuk merubah sesuatu yang buruk menjadi sesuatu yang baik. Dia bukan hanya lebih dari mampu, tapi Dia uda spesialisnya kalau boleh saya katakan. Seperti kisah-kisah populer di alkitab, mulai dari Abraham yang harus menanti lama sampai mendapatkan Ishak, kisah Yakub yang harus mengembara dulu, kisah Yusuf yang harus dibuang dan dijual dulu, kisah Daud yang melewati berbagai macam hal yang kelihatannya menyakitkan. Di balik semua yang terlihat bikin galau itu, ada kisah yang indah.


Dan saya jadi memahami. Itu lah sebabnya kenapa penting untuk dekat dan mengenali suara Tuhan Allahmu. Karena jika kita dekat dengan hati-Nya, masakan kita bisa tidak mengenali arahan-Nya? Apapun yang terjadi dalam hidupmu, semua ada dalam rancangan-Nya, tidak ada yang kebetulan, bahkan jika sesuatu yang kelihatannya sial atau malang.

Dan saya dapat insight, betul Tuhan memberikan manusia free will, karena Tuhan ingin hubungan dengan manusia, bukan robot toh. Tapi, kehendak-Nya lah yang terlaksana. Walaupun kamu punya free will, tetap hidupmu ada dalam kendali-Nya. Bukan karena Dia otoriter terhadap kamu, tapi justru karena Dia terlampau mencintaimu, sehingga Dia hanya rancangkan yang terbaik bagimu.

Contoh :
Seorang anak pastinya punya kehendak bebas, tapi jika apa yang akan dilakukan akan membahayakan dirinya, apakah orang tua dari anak tersebut akan mengambil tindakan untuk mencegah hal buruk terjadi atas anaknya? Yang manusia saja ingin melindungi anaknya, apalagi Bapa kita di surga.

Jadi, fokus sama Tuhan, kenali suara-Nya. Hal itu jauh lebih penting, karena kamu bisa menghindari hal-hal yang bisa mendukakan hatimu. Pergunakan free will kamu dengan bijaksana dan bertanggungjawab. Dan jika pun kebablasan, Tuhan lebih dari sanggup mengubah kemalangan menjadi kebaikan. Dan percaya lah, bahkan sekalipun hal yang kelihatan buruk terjadi, semua itu ada dalam kendali Tuhan dan Dia yang Maha Tahu sudah lebih dahulu tahu sebelum hal itu menimpa engkau. Masalahnya, seandainya Dia memberi peringatan kepadamu, apakah kamu bisa mendengar-Nya? Atau lebih tepat pertanyaannya, jika Dia berbicara, akan kah kau taat kepada suara-Nya?


___________________________________ ****************************** ___________________________________



This post is part two from this post. I try to make it simple and finish it in this post.



After I have been reminded about focus only to God instead of your worries, I am also been reminded that this world is going to fall, so, what mammon (Matthew 6:24, AMP) are you chasing of? And then I thought, what kind of mammon I am chasing and how much more I need? If this earth shall passed, what's that mammon used for?

Focus on God. He knew what you need and what your heart desired. Focus on God, so what you chasing for will be turning to chase you.


And what surprise me was that I at a glance thought about spouse, the pastor told us to not worry about your future spouse. I feel like, "what? I just thought about that and what a coincidence you remind me to not worry about that"


I was afraid of building any serious romantic relationship. I worry about that because nowadays so many marriage failed. I heard some stories about how it ruin, and some stories are from people around me. And then, suddenly I got insight, like God is talking to me, because I feel calm and comfort. I heard He remind me, my future spouse from God should be the best suit me and all is in His control. What matter is, do you believe that His plan is the best plan? Do you believe that God is in control?

If you don't believe, you can't let Him to guide you.



And then I am reminded that human can only see one frame/one episode of the whole story at a time, so you can easily think that what happen is not a good thing. But, if you look to whole story, you can see, what looks like a bad thing at the beginning, actually bring a good thing in your life.


Hey! Our God is more than enough to turn that bad things to a good things for you. And not only you who have to go through hard time. Look at Abraham, he had to wait many years before Isaac born. See Jacob, he have to run away from his brother that want to kill him. Look at Joseph, he been sold to be a slave, way before he become someone so powerful in Egypt. Look at David, he have to go through many hard time before and after he became a king. But one thing for sure, there is a sweet and beautiful ending for all of them.


And I understand now, why it is so important to be close to His heart and recognize His voice. If we close to Him, we can easily recognize His voice so we don't have to go through a bad situation or wrong decision. Whatsoever happen in your life is in His control. There are no coincidence, even bad things happen in your life.

And I got insight. It is true that God gave us free will, that why we are human, not a robot. But do remember, only His will, will be done. Even you have free will, your life still in His control. It's not because He want to dominate you, but because He loves you so much so He only gave the best plan for you.


I give you example :
A child must be have his/her free will, but if that child is going to do something dangerous for himself/herself, you as a parent, will u let it happen or you will try to stop it and avoid it to be happen? If you say you will try to stop it, as a human, u try to protect your child. How come our Father in Heaven just sit down and watch?? He must be try hard to avoid us from "bad luck".


So, focus on God, know His voice. Because it is way more important, because you can avoiding those "bad luck" or bad things happen toward you. Use you free will with responsibility and wisely. And if you already make a decision that looks like leading you to bad things in you life, remember, our God is more than able to turn it out as a good thing.

And trust Him. Even bad things happen, all in His control. And He already knew what will going on.
What matter is, if He speaks to you, can you hear His voice? Or, if you can hear to His voice, will you listen and obey to His guidance?

Menjadi dewasa

Hai semua.


Bagaimana kabar kalian?
Bagaimana liburannya?
Menyenangkan kah?
Siapa aja yang uda mulai kerja lagi?
Hohoho.


Liburan saya kali ini cuma di Jakarta aja.
Tapi bersyukur, di liburan ini, banyak pelajaran yang saya dapatkan.
Dan pelajaran terpenting adalah praktek menjadi dewasa. Mungkin kamu pernah dengar pepatah "menjadi tua itu alami, menjadi dewasa itu pilihan".


Dulu, waktu kecil (dan biasanya rata2 anak kecil) akan bilang "enak ya jadi orang gede, bisa melakukan apa aja".


Celetukan itu juga pernah keluar dari mulut saya.
Simply karena sebagai anak kecil, di larang ini itu, dan berpikir jika orang dewasa bebas dengan kehendaknya sendiri.
Well, setelah menjadi dewasa, kok rasanya lebih enak jadi anak kecil ya? Haha. Karena anak kecil gak banyak beban kewajiban yang berat. Haha.


Lalu, yang saya pelajari beberapa waktu belakangan ini adalah teori gak akan jadi ilmu dalam hidupmu kalo masih berupa teori aja. Harus dijalankan dan konsisten.
Untuk menjalankan, dibutuhkan keberanian juga.


Berani itu bukan tanpa takut.
Berani itu adalah walau takut tapi sudah mempertimbangkan sisi baik - buruk dan akhirnya mengambil keputusan melangkah dan menerima semua konsekuensi.
Dengan demikian, akan jadi berani. Karena bertanggungjawab.


Beda dengan nekat.
Nekat itu tanpa pertimbangan dan langsung hajar aja. Pas kena jeduk, baru deh mikir. Haha.


So, what's my point?
Menjadi tua itu otomatis, menjadi dewasa itu pilihan.
Bagaimana kamu bertanggungjawab. Terutama untuk pilihan yang kamu ambil.


Ga mau memilih karena takut melangkah pun merupakan suatu pilihan dengan konsekuensi sendiri.
Terkadang berpikir, menjalani hidup, seperti mengarungi lautan. Di lautan ada banyak resiko yang bisa terjadi, tapi kita tidak tahu yang mana yang akan menimpa kita.
Jadi, persiapan itu dibutuhkan. Tapi, jika spekulasi kemungkinan buruk yang terus kita lihat, bukannya membuat kita maju, tapi malah bikin kita mundur.


Hari ini saya dapat berbincang dengan teman lama saya.
Dia mengingatkan kembali, hati kita seperti lautan. Bisa berubah. Bisa tenang, bisa berombak.
Kita yang harus mengendalikan.


Pelajari emosi mu.
Bedakan pikiran dan emosi yang terbawa akibat pikiran tersebut.
Dengan demikian, lautan hatimu bisa teduh. Saat dengar ini, teringat Yeremia 17:9


"Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?"


Merenung itu baik. Tapi jika merenung dengan pemikiran yang salah, bukannya menjernihkan tapi membuat jadi lebih keruh.


Dan saya langsung terpikir, itu lah sebab kenapa kita perlu mempelajari Firman.
Agar menjadi dasar dan senjata kita melawan intimidasi si jahat yang datang melalui serangan perkataan dan pemikiran.


Fiuh.
Ilmu kehidupan sesungguhnya menyenangkan dan seru.
Masalahnya gak ada sekolah kehidupan. Kita belajar dari sekitar kita.
Dari generasi di atas dan di bawah kita. Sekolah yang baik, jelas sekolah yang ada ujiannya.


Ujian kehidupan kita muncul dari berbagai hal.
Baik itu berkat, baik itu masalah.
Apakah kita lulus uji? Jika gagal, coba lagi.
Jika berhasil lewat, selamat, Anda naik kelas dan jangan kaget jika ujian selanjutnya dirasa lebih berat. Namanya juga sudah naik tingkatan. :)


Satu hal yang saya pelajari. Kita gak bisa mengarungi kehidupan ini dengan kekuatan kita sendiri. Kita gak akan mampu. Hanya tinggal tunggu waktu untuk jatuh dan hancur berantakan.
Kita butuh Tuhan. Karena Dia adalah pribadi yang Maha Tahu dan Dia bisa menuntun kita.
Berani lah melangkah (ini juga peringatan untuk saya pribadi).


Karena, selama ini, saya tahu apa yang harus saya lakukan, tapi saya takut melangkah.
Dan hari ini, saya diberi insight.
Penyebabnya adalah terlalu men-campuraduk-kan memori masa lalu + emosi yang timbul dari masa lalu dan dibawa ke keadaan saat ini.


Betul, masa lalu kamu yang membentuk dirimu saat ini. TAPI, masa lalu kamu TIDAK menentukan masa depanmu. Apa yang kamu lakukan HARI INI yang menentukan masa depanmu.
Ingat, satu tahun berarti 365 kesempatan baru.


Saya menulis ini mungkin akan terkesan saya curhat gak jelas atau tanpa poin yang jelas awal dan akhirnya. Tapi saya berharap, tulisan ini bisa membantu dan membawa insight ke kehidupan orang lain. Hikmat datangnya dari Tuhan. Tapi Tuhan bisa berbicara melalui apa saja dan saya berharap tulisan ini bisa menjadi salah satu media-Nya.

Komitmen, masih adakah di jaman now?

Sesuai judul di atas, itu pertanyaan yang benar-benar mengusik jiwa nan halus ini nih!


Kenapa?
Ya, secara jaman now, lebih banyak tersiar kabar perselingkuhan di banyak kasus dan dalam berbagai bentuk dan cara.


Kok kesannya komitmen itu makin langka saat ini?
Naif kah mengharapkan komitmen yang utuh di jaman now ?


Kemarin waktu saya potong rambut, ngobrol lah sama kapster (cowok) perihal jaman now yang banyak pelakor yang terekspos ke publik.
Sebenarnya dari jaman dulu uda ada pelakor, bedanya jaman dulu sembunyi-sembunyi. Jaman now pelakornya eksis.


Trus terceletuk lah dari si kapster yang notabene lelaki juga, perihal kalo suami uda keluar dari pagar, anggap aja kita wanita gak bersuami.
Wow, saya kaget sih dengernya. Segitunya kah persiapan mental para istri?


Lalu teringat wejangan teman yang usianya jauh di atas saya.
Beliau pernah berkata, kalau suami sudah keluar dari pagar, tutup lah sebelah mata, yang penting masih pulang. Atau ada lagi, mendadak teringat kelakar yang pernah disebut, kalau suami keluar rumah dan berjarak 5 meter dari pagar rumah, artinya dia itu lelaki single.


Lalu, jadi mikir, begitu kah?
Sebegitunya kah kehidupan pernikahan?
Kok suram?


Naif kah membayangkan pernikahan yang benar-benar hanya satu istri dan satu suami dengan komitmen penuh?


Akhirnya ini jadi bahasan saya dengan beberapa teman saya.
Ceritanya brainstorming gitu. Dan kesimpulan yang saya dapat, semua kembali ke pribadi para pihak yang ada dalam hubungan itu. Namanya juga komitmen.


Kalau hanya terikat di surat dan bukannya di hati, ya bisa lah hatinya merantau kian kemari.
Kalau terikatnya di hati, bisa kok komitmen.
Iya juga ya, jaman bahela banyak tuh yang nikah tanpa surat tapi awet aja sampai maut memisahkan.


Lalu, waktu lagi mikir dan randomly buka youtube, dapet khotbah ini dong.
Tambah mengerti lah saya.
Hubungan apa pun itu, butuh kedewasaan.


Dan saya pun teringat nasehat teman saya, dalam hubungan dibutuhkan saling pengertian, saling menerima, saling percaya dan komunikasi.


Dan tadi saya mendadak bilang ke Tuhan, kalau saya akan tetap percaya akan kemurnian komitmen, di luar keadaan sekitar dan realita, karena saya percaya, Tuhan akan selalu sediakan yang terbaik bagi kita, dan jika pun ada masalah, Tuhan sudah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita (¹). Dan kita tidak akan diijinkan masuk ke dalam pencobaan yang lebih besar dari kekuatan kita (²).
Jadi, intinya, percaya lah sama Tuhan dan karakter Tuhan. Dia tepat janji dan Dia pasti memberi yang terbaik, just simply because He is good, all the time, He is good.
Bagaimana pendapat kalian?


(¹) Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.” (Ulangan 31:8)
(²) Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. (1 korintus 10:13)

I am coming back!

Halo!
Long time no write, nih!


Uda kelamaan malah. Uda sampe ganti tahun. Hoho.
How is your life? :)
My life is so great!


Walau up and down, di sum up, jadinya great. Ya, namanya juga hidup, ada naik turun ya.
Biar ga bosen. Kalo stagnant kan lebih gawat. Haha.


Kuliah uda beres, uda lega.
Awalnya sempet mikir mau S2, tapi setelah mengalami rasanya jadi karyawan plus mahasiswi, kayaknya uda lelah mau lanjut S2.
Cukup dulu untuk saat ini pegang gelar sarjana (dan semoga ini pilihan baik dan gak nyesel).


Hari ini (selasa, 12 Juni) saya uda mulai libur lebaran nih.
Kalian uda libur kah? Atau malahan lebih duluan libur nih?
Mau isi liburan dengan kegiatan apa? *KepoModeOn


Hari ini, hari pertama aku libur, pengennya isi dengan maksimal.
Tapi jeleknya adalah saking kepengen maksimal, malah gak menikmati moment.
Emang paling bener hidup itu harus dimaknai di setiap detik dan di setiap tarikan nafas *Eaaaa


Tapi serius.
Sepengalaman saya, semakin dipikirin pengen maksimal ini itu dll (ceritanya perfeksionis nih), emang bener jadi bisa berjalan sesuai plan, tapi, saat moment uda lewat, br deh kepikiran, "ya ampun, gak nikmatin yang uda lewat".

Ibarat uda masak menu kece kelewat ribet, makan secuil aja gak dapet.
Kan sakitnya di siniiiii ♥️♥️


Jadi, Nikmati lah waktu mu dengan baik.
Benar, kamu butuh planning, tapi jangan kaku, selipkan fleksibilitas juga dalam jadwal.
Karena memang manusia beracara, tapi Tuhan yang berkehendak dan Tuhan tau yang terbaik bagi kamu.


Godspeed!
Happy holiday!

Insight, 26 Nov 2017 | Your life is in "working in progress" stage

Wow, gak terasa uda di ujung tahun ya. Bahkan November pun uda mau berakhir.
Di awal tahun biasanya berasa waktu berjalan lambat, apalagi kalau bulan yang dilalui gak ada hari liburnya, hahaha. *Curhat!*

Tapi kalau uda di penghujung tahun, kaget juga loh ya, waktu berlalu begitu cepat. Bahkan aku sendiri berpikir, setahun ini uda ngapain aja? Uda belajar apa aja? Ada progress apa aja? Alias me-review diri juga.

What about you guys? Bagaimana review diri kalian? Banyak kah perubahan dalam hidupmu sepanjang tahun ini? Aku berharap perubahan yang baik yang terjadi dalam hidupmu. :)



Kalau saya, yang pasti, di penghujung tahun lalu, timbul iman dalam hati saya bahwa 2017 akan jadi tahun yang sangat luar biasa dan besar bagi saya. Nyatanya apa yang saya alami? I lost my dogs. Si luppy mati dicabik anjing gede. Trus si callisa entah kenapa muntah-muntah dan BAB darah. Huhu.
Lalu untuk satu dan lain hal, adik saya pun akhirnya memilih bekerja di luar negeri. Rasanya dunia saya hancur. Karena bagi saya, yang penting anggota keluarga saya lengkap dan ada di sekitar saya.

Jujur saja, saya sempat bertanya ke Tuhan, kok yang saya alami kesannya menghancurkan saya?




Ketika diingatkan tentang bersyukur, saya kembali diingatkan apa saja yang sudah Tuhan kerjakan dan sediakan bagi saya. Saya dapat pindah kerja dengan gaji yang lebih besar dan owner perusahaan sangat baik terhadap karyawannya. Di kantor baru ini saya bisa belajar bidang baru dan juga hal-hal baru. Saya juga diingatkan kembali tentang building relationship dengan baik. Dan masih banyaaaaak hal baik lainnya.



Kalau mau ditimbang, jauh lebih banyak hal baik yang Tuhan lakukan bagi saya. Hanya saja, saya terlalu egois dan melihat yang negatif. Dan guess what? Beberapa hari yang lalu, saya merasa kembali on track! Yes, I am back on track!

Maksudnya bagaimana back on track? Nah, ini insight yang mau saya sharing. Jadi, daritadi celotehan saya itu cuma pembukaan cerita. Hahaha. :p




Jadi, kamis lalu ketika saya komsel, kami para pengurus, dihadapkan kondisi dimana kemungkinan komsel kami akan dibubarkan jika tidak ada penerusnya. Karena pemimpin kami akan meninggalkan Indonesia dan pindah ke luar negeri karena menikah.
Long story short (ceritanya ga mau membuka drama di sini, hoho), saya dapat insight yang dari kamis tapi hari ini saya renungkan sepanjang pulang gereja dan saya menangis tiada henti karena amaze sama baiknya Tuhan Yesus. So, apa aja yang saya dapatkan??


1. Jangan keraskan hatimu


Yup, hal simple tapi seringkali kita gak sadari yaitu keadaan hati kita. Seringkali keadaan tidak berjalan sesuai keinginan kita dan karena tidak pandai meng-handle hati dan pikiran, kita bisa terjebak dengan merasa sebagai korban situasi dan akhirnya mengeraskan hati.

Kok bisa? Yes, bisa.
Karen hati yang gak bersyukur, karena hati yang gak rela dibentuk, karena pikiran yang gak mau diubahkan, akhirnya kita terjebak dan tanpa sadar merasakan kepahitan. Parahnya lagi, walau uda sadar ada yang salah sama diri kita, kita gak mau lepaskan pula kepahitan itu.

Dan saya diingatkan, saat kita mengeraskan hati, kita tuh lagi tutup kuping, gak mau denger suara Tuhan. Tanpa sadar, ibaratnya kita tuh lagi bilang sama Tuhan "Udah, jangan sentuh saya, saya gak mau dibentuk, biarkan saja saya seperti ini".


Kebayang gak, kalau tanah merah lagi mau dibentuk jadi porselen yang cantik?
Harus mau dibentuk, harus mau di proses yang pastinya gak akan enak dan nyaman.
Apa jadinya kalau si tanah merah yang baru setengah di proses ngomong ke pengrajinnya "udah, jangan apa-apain aku lagi, anggap saja sudah selesai, letakkan saya di meja pajangan". Kalo saya yang jadi pengrajinnya, saya akan bilang ke si tanah liat "Hellow! You are still ugly! Mau dipajang di meja? Yang bener aje!". Haha, witty banget ye.

Untungnya Tuhan Yesus sangat baik dan sabar sama saya yang keras kepala dan keras hati ini.
Kamis lalu saat saya diingatkan untuk gak keras hati, surprisingly saya nurut loh. Saya oke aja dan saya mengosongkan hati dan pikiran saya. Saya tidak mengijinkan diri saya yang berbicara. Dan saya bisa mendengar Dia dengan jelas. Sehingga saya sadar, di saat saya mengeraskan hati, sesungguhnya saya sedang berjalan sendiri dengan kekuatan saya sendiri. Pantas saja hidup terasa berat dan gelap.



2. Percaya pada rancangan Tuhan atas hidupmu


Saat kita mengeraskan hati dan berjalan dengan kekuatan kita, tanpa kita sadari, sebenarnya kita sedang berkata kepada Tuhan "Tuhan, saya jalan ke sini aja deh, saya gak yakin kalau jalan yang Kau tunjuk itu bener deh, keliatannya susah dan gak enak, yang sudah saya lewati aja nyakitin."


Hm. Padahal jelas Tuhan sudah merancangkan hidup kita dengan baik bahkan dari kita masih bakal anak dan rancangan-nya itu yang terbaik buat kita!

Mazmur 139:13-17 (TB)
(13)Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku.
(14)Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;
ajaib apa yang Kaubuat,
dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
(15)Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi,
dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
(16)mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis
hari-hari yang akan dibentuk,
sebelum ada satu pun dari padanya.
(17)Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah!
Betapa besar jumlahnya!


Yeremia 29:11 (TB)
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.


3. Jangan ambil keputusan berdasarkan keadaanmu saat ini

Yes. Keadaan kita saat ini hanya sementara. The best is yet to come! We are in progress!
Jangan nilai keadaanmu saat ini sebagai keadaan final.
Jangan ambil keputusan berdasarkan keadaanmu saat ini, apalagi di saat kamu dihadapkan dengan suatu tantangan yang jelas kamu tahu bahwa kamu akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa, tapi karena kamu lihat keadaanmu saat ini belum pantas dengan kemuliaan yang akan kamu terima, lalu kamu lewatkan begitu saja.


Jujur, itu yang hampir selalu saya lakukan. Saya merasa belum pantas karena melihat keadaan saya saat ini yang jauh dari layak. Saya memandang rendah terhadap diri saya sendiri.

Kamis lalu, Tuhan berbicara ke saya, "Jangan ambil keputusan berdasarkan keadaanmu saat ini, kamu tidak tahu kemana (sejauh/setinggi apa) Aku akan membawamu". Kamis lalu saat saya dengar ini, saya biasa aja. Tadi waktu jalan pulang dari gereja, saat saya ingat ini, saya nangiiiiis gak berhenti.

Karena saya ingat, saat Dia berbicara, saya dapat penglihatan sekilas walau gak jelas, tapi saya tahu saya akan dibawa ke tempat yang lebih tinggi. Saya gak tau pastinya saya akan jadi seperti apa, tapi Tuhan butuh saya untuk punya hati yang rela dan mau dibentuk, agar rencana-Nya bisa terwujud.


Saya langsung terbayang, bagaimana si tanah liat mau jadi porselen cantik kalau saat mau dibentuk malah kabur? Dan saya jadi teringat, jika saya mengambil keputusan dan melepaskan kesempatan yang datang (yang kemungkinan besar sudah Tuhan persiapkan), sesungguhnya saya sedang mengutarakan ketidakpercayaan saya terhadap rencana Tuhan, dan sesungguhnya saya sedang mengeraskan hati saya.

Wow! Sambung menyambung loh itu.
Dan saya menangis karena hati ini sangat tersentuh karena saya menyadari, Tuhan Yesus sungguh sangat baik. Saya aja yang bandel. Jadi, ya gak aneh kalau hidup saya gak berubah fantastis. Gak aneh kalau hidup saya gini - gini aja. Karena di saat Tuhan mau bentuk saya dan mau bawa saya lebih maju lagi, saya yang menolak.


4. Caramu memandang dirimu itu yang menentukan sikap dan pola pikirmu

Ini bonus. Really!
Pas di gereja, aku dapat poin ini dan amazingly kok nyambung sama yang saya dapat di hari kamis.


Pas lagi nyanyi menyembah dan memuji Tuhan, tiba - tiba saya dapat penglihatan 2 orang wanita yang berbeda usia. Yang satu keliatan masih early 20 yang masih hepi - hepi enjoying life sama teman-temannya, tapi terlihat bahwa dia tidak mau terlibat dalam tanggungjawab yang besar, pokoknya yang penting hepi dan enjoy aja.


Lalu, gak lama, terlihat wanita yang lebih dewasa, sekitar early 30. Terlihat matang, dewasa, berani bertanggungjawab dan bahkan siap membimbing generasi di bawahnya.


Aku bingung, maksudnya apa?
Then, aku dapat pengertian, itu adalah gambaran hidup yang harus aku pilih.
Remember, life is about choices!
Aku mau jadi wanita yang mana? After I choose, it will change the way I think and the way I act!!


Selama ini aku selalu menempatkan diriku belum layak, belum pantas, belum ini, belum itu.
Aku memposisikan diri seperti ABG. Ya, mungkin seperti gambaran wanita early 20 yang aku lihat. Pokoknye kerja, cari uang, enjoy aja. That's not what God wants for me. And definitely, that's not what I want in my life. No wonder kalau hidup gak pernah puas. Karena dengan menepatkan diri saya dengan pola pikir seperti itu (aku ini siapa? gak pantes lah, belum mampu, bla bla bla), saya akan bersikap seperti itu terus, gak akan ada majunya. Saya gak akan mencapai pemenuhan hidup saya. 

Dan guess what? Sikap itu menunjukkan 3 poin sebelumnya yaitu gak percaya sama Tuhan (rancangan dan pekerjaan tangan-Nya), mengeraskan hati dan melihat keadaan saat ini sebagai keadaan permanen.


Saat saya memilih menjadi gambaran wanita kedua, saya akan tanpa sadar mengarahkan diri saya menjadi seperti gambaran itu.


Lalu teringat Amsal 23:7(a)
(TB) Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.
(AMP) For as he thinks in his heart, so is he





Guys, how about you?
Apakah ada hal-hal yang menghalangimu melihat jalan yang sudah Tuhan sediakan bagimu?
Adakah hatimu menjadi tawar dan keras?
Apakah ada yang membuatmu ragu akan kekuasaan Tuhan dan betapa mulia pekerjaan-Nya?
Apakah ada hal yang membuatmu ragu mengenai rancangan-Nya atas hidupmu?


Jika ada, percayalah, itu adalah tipu muslihat yang dilemparkan kepadamu agar engkau tidak bisa menggapai apa yang sudah Tuhan rancangkan bagimu.
Aku berdoa, Roh Kudus yang akan berbicara dan memberikan pengertian kepadamu.
Bukalah hatimu, bukalah pikiranmu. Ijinkan Dia menguasai hati dan pikiranmu sehingga damai sejahteranya bisa ada bersamamu dan memampukanmu menjalai hari-hari ke dapan.

GBU!

Insight 23 Okt 2017 | You need to re-align your life

Please scroll down for English. Enjoy your reading!


Hello.
Belakangan ini jarang banget nulis.
Energi kayaknya rendah banget ini.
Kurang olahraga ditambah faktor U kayaknya. Hahahaha.


Hari ini rasanya jadi hari yang sesuatuuu banget buat saya.
Kenapa?
Well, rasanya hari ini kejadian kehidupan yang cukup penting dalam perjalanan kehidupan saya. 
Dan saya yakin, pasti akan berujung kebaikan untuk saya.


Hari ini, peringatan kematian anjingku tersayang, Luppy. 
Hari ini tepat 4 bulan dari kematiannya. 
Hari ini juga adikku pergi bekerja ke luar negeri, baru pertama kali ini anggota keluarga berpisah jauh untuk bekerja. Dan hari ini saya mendapatkan mentor yang akan menemani saya, memantau dan mengarahkan saya agar saya bisa berjalan dengan lebih terarah ke tujuan saya.
What a day! 


Belakangan ini saya semakin memikirkan, saya ini seperti senjata, sayangnya tidak terarahkan dengan benar. Jika saya adalah pistol, maka saya akan menembak ke segala arah. Kerugiannya besar, peluru saya terbuang sia-sia dan bisa jadi melukai banyak orang akibat peluru yang terbuang tanpa terarahkan.


Maka dari itu, saya mendoakan seorang mentor. 
Tidak disangka kemarin tiba-tiba dikontek oleh kenalan yang sebelumnya hanya baru bertemu 2x. Dan kemarin di pertemuan ke 3, kami mengobrol dan saya merasa cukup nyaman untuk curcol. Haha.


Berakhir dengan dia nenawarkan diri dan bertanya apakah saya mau ditemani dalam progress re-align. Lalu setelah berpikir satu hari, akhirnya haru ini aku jawab oke deh.


Belakangan ini pikiran rumit, karena usia bertambah, tapi tujuan makin kabur. Saya butuh bantuan. Saya butuh re-align alias menyelaraskan antara kondisi kehidupan dengan mimpi tentang dunia yang ingin saya buat.


Adakah teman-teman yang mengalami hal serupa? Atau adakah yang sudah melaluinya?
Silahkan berbagi di kolom komentar, akan sangat membantu saya dan/atau teman-teman lainnya.


GBU!



-------------------- *************** --------------------


Hello.
Lately I rarely writing. 
My energy so low. 
Because no exercise and getting older, perhaps? Hahaha.


Today is an important day for me. 
Why? 
Well, I feel that today is a day that will be a milestone to my journey. 
And I'm sure that it will lead to goodness.


Today is the day when Luppy (our beloved dog) died 4 months ago. 
By this day, for the first time, our family member (my brother) seperate for miles away, he goes overseas for work. 
And by today, I got a mentor that will accompany me, watching my steps and guide me so I can walk more focused to the goal.
What a day! 


Lately I think deeper that I am like a weapon with no focused target. 
If I am a gun, then I will be shoot to all direction. 
It will cost a huge loss. My ammo will be wasted and I can hurt people because of random shots.


That's why I prayed for a mentor. 
And by coincidence  (I guess), an acquaintance which I just met up twice, contact me and ask me to hang out. So, at 3rd meet up, I feel quite comfort to tell what I'm thinking.


End up that he offer himself to accompany me to go through my struggle and he asked do I want it? Then, after thinking for a day which means today, I said yes.


Lately my mind so complicated because I'm getting older but my vision about my future become more blur.I need help to re-align what my reality and what kind of world I want to create for myself.


Is anyone of you ever felt this? 
Or have you overcome it? 
Please share on comments column below. 
It will help me and/or other persons.


GBU

Insight 04 Okt 2017 | Reset

Hi!
Long time no write!

Kali ini saya akan menulis singkat saja, dan khusus kali ini tidak dalam 2 bahasa. Hehe.


Puji Tuhan skripsi sudah selesai dan sidang pun sudah berlalu. Yeay!!! Menanti wisuda untuk saat ini. Azek!

Saya belakangan ini diingatkan pelajaran kehidupan yang pernah saya dapatkan dan ya ternyata terlanjur saya lupakan.
Terkadang Tuhan mengizinkan kita masuk ke dalam ujian agar kita mengingat kembali apa yag sudah kita pelajari.


Tapi saya percaya, bukan hanya itu. Tuhan ingin kita ingat hal yang mendasar. Hey, mau sepintar apapun kita di sekolah, berawal dari membaca dan berhitung, bukan? :)

Hal yang saat-saat ini Tuhan ingatkan adalah perihal hubungan dan penguasaan diri.
Bukan kebetulan kemarin saya mendengar khotbah dari Ps Jeffrey Rachmat perihal bijak dalam membina hubungan. Jangan mengsalahartikan kebaikan orang lain dan menuntutnya jadi suatu keharusan atau hal yang wajar untuk kita tuntut.

Hari ini bukan kebetulan saya mendengar khotbah dari Ps Jose Carol perihal kita sesekali butuh re-set. Agar kondisi hati kita kembali ke awal.

Dan malam ini bukan kebetulan juga saya membaca Amsal 21:23 perihal menjaga diri yang bisa saya artikan juga sebagai bentuk pengendalian diri.


Baru saja saya diingatkan kembali hal mendasar. Jika kita hendak membuka suatu kebenaran (terutama dengan tujuan untuk membenarkan diri sendiri) dan hasilnya malah akan melukai orang lain dan /atau berpotensi menyebabkan situasi yang tidak baik, maka diam akan menjadi pilihan yang sangat baik.


Guys, I hope you doing well.
Tidak perlu memusingkan hal yang ribet, berawal dari hal yang kelihatan sepele dan simple saja dulu.
Apakah kondisi hatimu sudah di kondisi default orang yang berada dalam persekutuan dengan Tuhan?

Karena dari hatimulah terpancar kehidupan.
Kita ingin kehidupan yang baik, berawal dari kondisi hati dan pikiran yang sehat.

Saat saya menulis ini, sebenarnya juga menjadi pengingat bagi saya.
Mari kita berlomba-lomba menghidupi kehidupan yang sudah Tuhan berikan kepada kita dengan melipatgandakan apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita sehingga orang lain pun dapat merasakan dampaknya.


Dimulai dari hati.

GBU!

Insight 18 Agt 2017 | Purpose of Life

Start from 01 Jan 2017 I wrote in both English and Indonesian. Please scroll down for English. Enjoy your reading! :)


Tadi pagi saat berangkat ke kantor, aku dapat sesuatu hal yang sesungguhnya menurutku mayoritas orang di dunia ini uda tau, tapi mungkin lupa atau gak yakin (seperti saaya ini).
Dipikir-pikir, benar juga ya, harus berdoa untuk dapat seorang mentor. Karena petinju paling canggih juga ada yang mementori, karena si mentor membantu melihat yang tidak bisa dilihat oleh yang dimentori alias "blind spot".

Well, bukan perihal mentor yang tadi pagi saya dapat, haha.
Kembali ke topik.

Tadi pagi pas otw ke kantor, saya dapat sesuatu yang membuat saya mendadak merasa hidup lebih hidup, berasa lebih enteng dan bebas. Apakah itu?
Aku bertanya pertanyaan yang saya yakin semua orang pernah atau sedang lontarkan yaitu "Apakah tujuan saya hidup di dunia ini?". Karena saya merasa belum hidup dengan sepenuhnya. Belum mengeluarkan yang terbaik dari diri saya yang Tuhan sudah siapkan dari saat Dia membentuk saya (Mazmur 139:13).

Saya merasa meronta dalam hati karena saya merasa tidak menjalankan kehidupan yang mungkin Tuhan sudah siapkan bagi saya. Merasa ini bukan rutinitas kehidupan yang Tuhan sudah siapkan. 

Lalu tiba-tiba teringat khotbah Ps. Jeffrey Rachmat dan Ps. Jose Carol.
Diingatkan tentang glory itu ada bahasa aslinya, dari bahasa ibrani (lupa apa sih bahasa ibraninya, maap yak). Intinya dari kata itu, bisa diartikan sebagai beban. Jadi, glory itu mempunyai beban juga.

Lalu diingatkan kisah Daud. Sebelum menjadi raja, Daud diproses Tuhan sebegitu rupa agar bisa menjadi raja Israel. Teringat juga kisah Yusuf, proses amat panjang dan menyakitkan juga harus dilalui sebelum akhirnya dia jadi orang penting di Mesir dan menjadi orang kepercayaan Firaun.

Setelah dipikir ulang, siapa sih yang tokoh di alkitab yang gak melalui proses? Bahkan Tuhan Yesus sendiri pun harus melalui proses dengan lahir sebagai bayi yang tidak berdaya.

Lalu aku dapat klik, ya kalau di film tuh ada bola pijar nyala sambil bunyi "tiiiing!!!!"
Life is about process..!

Memang betul tujuan hidup kita masing-masing sudah ditentukan Tuhan. Panggilan kita masing-masing pun sudah dipersiapkan.
Yang jadi masalah adalah apakah kita sudah siap dan kuat menanggung beban dari panggilan kita? Aha!

Langsung deh cek ke dalam, memangnya hati saya uda sebesar apa untuk menanggung beban?
Lalu saya dengar Tuhan berkata "Tidak usah kamu pusingkan apa tujuan akhirmu, jalani saja apa yang ada padamu". Dan saya berpikir, betul juga, dengan hanya bertanya ke mana tujuan saya, kalau saya tidak melangkah, maka saya gak akan kemana-mana.

"Apapun yang kamu alami saat ini adalah proses yang harus kamu lalui karena Tuhan sedang membentuk dan mempersiapkanmu agar kamu siap menjalani panggilan-Nya"

Merasa terhibur sekali. Segala kegagalan saya, sesungguhnya adalah proses belajar, persiapan dan pematangan diri. Bahkan rutinitas yang saat ini gak saya sukai (dan gak saya syukuri) sesungguhnya juga adalah bagian dari pembelajaran dan persiapan saya. Harusnya saya tidak berkecil hati, justru harus bersyukur karena Tuhan mau memproses saya.

Sinkron sekali dengan apa yang saya dapatkan sepanjang minggu ini yaitu dari Ulangan 20:2-4 (TB)
(2)Apabila kamu menghadapi pertempuran, maka seorang imam harus tampil ke depan dan berbicara kepada rakyat, (3)dengan berkata kepada mereka: Dengarlah, hai orang Israel! Kamu sekarang menghadapi pertempuran melawan musuhmu; janganlah lemah hatimu, janganlah takut, janganlah gentar dan janganlah gemetar karena mereka, (4)sebab Tuhan, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai kamu untuk berperang bagimu melawan musuhmu, dengan maksud memberikan kemenangan kepadamu.

Tuhan berperang bagi kita untuk memberi kemenangan bagi kita. Betapa Tuhan mencintai kita! Dia menyertai kita dalam berperang, tapi jangan lupa, kita juga harus maju melangkah. Jangan hanya duduk diam dan berharap sesuatu terjadi dan hidupmu berubah. Kita tetap harus berjuang melewati proses, tapi dengan hati yang berserah.

GBU!

------------------------------ ******************** ------------------------------

This morning when I was on my way to office, I got something that I think most people in this world already know, but maybe forgotten or not convince yet.
I thought it is necessary to have a mentor in your life because a mentor can help to see your blind spot. Well, I'm not going to talk about mentor, ha ha ha. Back to topic!

This morning when I was on my way to office I got something that suddenly makes my life more alive, more carefree and free. What is that?

I was asking a question that I believe ALL people in this world is asking or was asking about. The question is "What is my purpose in this world?". Because I don't feel truly alive. Not giving out my best yet from what God already gave to me since He mold me. (Psalm 139:13)

I feel like I am struggle inside because of not livinng the life that perhaps God already prepared for me. I feel like this routine life is not what God prepared for me.

And suddenlly I remember Ps Jeffrey Rachmat's and Ps. Jose Carol's sermon. I am reminded that glory come from Hebrew (I forgot the word, apologize). The point is from that word can be translate as weight. So, glory have weight to bear.

And I am reminded about David. Before be a king of Israel, God process David so he can be a king. And remembered about Joseph that have to be processed so long and have to go through many hurting situation before he became most important person in Egypt.

After I think again, whose story in bible that not be processed? Even Jesus have to go through the process, He had to born into a fragile baby.

And then I got a light bulb moment. Life is about process..!

It is true that God already prepared our purpose. Our calling also been prepared. The issue is "are we already prepared and ready to bear the burden form our calling?" Aha!

Spontaneously I check my own heart, am I ready to bear that burden?
And then I heard God speak to me "You don't need to worry about what is your final destination, just do what I already give to you now". And I thought, it is true. If I just keep asking where am I going but I do nothing, I will not go anywhere.
"Whatever you been through nowadays is a process that you have to go through because God is molding and shaping you so you are prepared to do His calling for your life"

I feel so comforted. All my failures is a process of learning, preparation and a maturity process. Even my daily routine which I don't like (and I am not grateful for) truly is a part from learning process and my preparation.  I should not be discouraged,  otherwise, I should be grateful because God wants to process me.

Sync what I got this whole week,
Deuteronomy 20:2-4 (AMP)
(2)When you approach the battle, the priest shall come forward and speak to the people, (3) and shall say to them, ‘Hear, O Israel: you are advancing today to battle against your enemies. Do not lack courage. Do not be afraid, or panic, or tremble [in terror] before them,(4) for the Lord your God is He who goes with you, to fight for you against your enemies, to save you.’

God fight for us to give us glory. How big is His love upon us!
He goes with us to battlefield, but don't forget, we still need to make a step. Not just sit down and watch and wishing something happen and change our life. We still need to fight, but with a surrendered heart.

GBU!

Kebaikan Kecil | Little Kindness

Start from 01 Jan 2017, I wrote both in Indonesian and English. Please scroll down for English. Enjoy your reading!

Hari ini bisa dikatakan adalah hari yang penuh dengan berkat. Saya melihat dan merasakan kasih karunia Tuhan yang begitu besar.
Berawal dari mulusnya pembuatan passport yang mungkin juga dikarenakan ada inspeksi dadakan sehingga pelayanan hari ini berbeda dan lebih cepat, ditambah regulasinya akan berubah lagi.
Lalu ditambah dengan malam ini merayakan ulang tahun salah satu teman saya dan berjumpa dengan beberapa teman baru.

Yang menjadi insight bagi saya di hari ini terutama saat saya pulang dari rumah teman saya. Di dekat komplek saya, saya melihat ada tukang tek-tek yang menghampiri seorang kakek tua yang terlihat hidup dari meminta-minta dan tidak mempunyai tempat tinggal. Si abang tek-tek sepertinya memberikan sedikit uang bagi si kakek dan si kakek terlihat sangat berterima kasih.

Langsung saya teringat akan ayat dari Lukas 6:38 (TB)
Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Tidak butuh kekayaan yang melimpah untuk bisa memberikan berkat bagi orang lain. Dari kecukupanmu maka kamu akan merasakan kelimpahan. Bukan kebetulan bisa mirip dengan apa yang saya dengar minggu lalu di gereja tentang cukup dan melimpah.Kamu bisa merasakan kelimpahan saat kamu tahu kapan untuk mengucapkan/merasakan cukup.
Seperti yang tercatat di Amsal 11 : 24-25 (TB)
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan,

Memang betul, tidak perlu seorang yang kaya dengan banyak harta yang bisa memberikan berkat bagi orang lain. Orang yang kaya dengan merasa cukup jauh lebih sanggup membagi berkat kepada orang lain.

Marilah kita menjadi orang yang mampu mengatakan cukup bagi diri kita dan sanggup untuk berbagi dengan orang lain sehingga orang yang tidak mengenal Yesus bisa melihat dan merasakan kebaikan-Nya melalui hidup kita.

God bless!

------------------------------ ******************** ------------------------------

Today is a blessed day for me. I see and feel God's love.
It start with when I applied my passport earlier this morning, it's goes really smooth. There was a sudden inspection and thanks to it, today's process become more faster and the regulation will change start from next week.

This night, I celebrate one of my friend's birthday and I met some new friends.

What pop up and become my insight? Is when I am on my way home from my friend's house. When I near to my house block, I saw a food seller that goes around everywhere (in Indonesia we call them "tek-tek" because the seller hit the pan and make sound like "tek-tek"). He came to an old man looks like a beggar that homeless.

The food seller looks like giving some money to the old man and that old man looks so thankful.

I suddenly remembered to a verse from Luke 6:38 (AMP)
Give, and it will be given to you. They will pour into your lap a good measure--pressed down, shaken together, and running over [with no space left for more]. For with the standard of measurement you use [when you do good to others], it will be measured to you in return.”

No need to be a rich man to give some to others. When you can say enough, you can feel abundance. It is not a coincidence that this really alike with what I heard at last sunday service.

Like what it recorded at Proverbs 11:24-24 (AMP)
There is the one who [generously] scatters [abroad], and yet increases all the more; And there is the one who withholds what is justly due, but it results only in want and poverty.
The generous man [is a source of blessing and] shall be prosperous and enriched, And he who waters will himself be watered [reaping the generosity he has sown].

It is true, no need a rich man with so many treasures to be a blessing to others. People who is "rich" because he knows when to say enough can be a greater blessing to others.

Let's be a person that know when to say enough and can feel enough for ourselves so we can share with others. So, people who don't know Jesus can see and feel that He is good through our life.

God bless!

Long time no see!

Since 01 Jan 2017, I wrote in English and Indonesian. Please scroll down for English. Enjoy your reading!


Haaaaiii....!!!!
Lama tak bersua!


Kangen nulis walau rasanya capek dan efeknya muales banget nulis!
Alasannya ga ada waktu sih, tapi nyatanya ada waktu tuh buat sosmed! Oops!


Waktu kepikiran ini, langsung jadi wake up call buat aku kalau aku uda terlalu banyak memakai berbagai alasan untuk menghabiskan waktu untuk hal yang kurang penting.
Emangnya kegiatan aku ngapain aja sampe segitu sibuknya?
Kegiatan standart!


Bangun tidur - pergi kerja - pulang rumah - buat skripsi/main sosmed - tidur.
Nah, yang jadi bermakna itu di waktu setelah pulang kerja, aku manfaatkan buat apa? 
Kalo skripsi, hm, belakangan ini justru tidak banyak waktu untuk buat skripsi karena prahara di kampus yang membuat skripsi kita tertunda *lebay!*




-----------------------------------*********************-----------------------------------


Hi...! Long time no see....!!!

I miss to write again eventhough I am so tired and lazy to write.
I use to day I have no time to write but actually I have time to be spent on social media! Oops!


When I realize this, it's become my wake up call for me that I have spent too much time for useless things!
What I did on my daily schedule?


Wake up - go to work- go home - do my paper/spend time on social media - sleep.
What matters is what I do after I go home from office. If doing my paper of bachelor degree, hm, lately I don't continue because there some issues at my university that put our paper on hold.

Insight 04 Juni 2017 | You know EXACTLY what you want

Start from 01 Jan 2017, I written both in Indonesian and English. 
Please scroll down for English. Hope you enjoy your reading and hope this will bless you.



Malam begini tiba - tiba otaknya cling! Gitu deh. 
Namanya ilham mah bisa dateng kapan aja dan di mana aja. 
Terkadang bentuknya visual. Terkadang betuknya seakan ada yang bisikin ke dalem pikiran dan bikin saya bereaksi "oh iya, bener juga ya".


Tapi 1 hal yang saya percaya. Yang kasih jelas dari Tuhan. Namanya hikmat. 
Bukannya sok suci atau sok hebat. Tapi saya pikir akan lebih baik jika saya bagikan, siapa tau bermanfaat bagi orang lain.


Insight kali ini pendek kok, janji! :)
Soalnya saya kedoyanan ngobrol sih,jadi awalnya mau nulis pendek bisa jadi panjang. Hahaha. Kebiasaan buruk 


Well, hari ini yang saya dapat adalah jika seseorang berkata mereka tidak tahu apa yang mereka mau, sebenarnya itu hanya kalimat yang dimudahkan saja.


Kenapa saya bilang gitu?
Karena tidak ada satu manusiapun yang gak tau apa yang mereka mau. 
Anak bayi aja tau kok apa yang mereka mau. 
Bedanya mereka belum bisa bicara, makanya mereka kasih tau dengan menangis dan menangis.


Bagaimana dengan anak kecil? Mereka tau kok apa yang mereka mau. 
Makanya bisa kan nangis minta sesuatu dan bisa ngambek kalo apa yang mereka mau gak dikasih atau gak dipenuhi sama orangtuanya.


Remaja aja tau kok apa yang mereka mau. Makanya ada tahap membangkang kan? Melawan orangtua. 
Karena mereka berusaha dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau.


Tapi mereka tau apa yang mereka mau!


Hanya bedanya adalah mereka belum mampu menyediakan sendiri apa yang mereka inginkan. Ya karena mereka juga belum menghasilkan uang, belum bisa beli ini itu sendiri. 
Kalau yang non material? Tetap saja harus dipenuhi oleh orang lain seperti misalkan kasih sayang orangtua, kasih sayang sahabat, dsb.


Nah, lalu gimana cara orang dewasa terlebih yang sudah bekerja, yang sudah menikah,yang sudah punya anak, dan terutama yang sedang bermasalah (baik psikis maupun mental) kok bisa bilang gak tau apa yang mereka mau?


Sudah semacam pola dari bayi sampai dewasa kok. 
Mendadak pas dewasa kayak amnesia akan kemampuan itu?


Menurut saya, kalimat "saya tidak tau apa yang saya mau" itu jika dijelaskan adalah "saya tau apa yang saya mau, tapi tidak bisa mewujudkannya." 
Atau "saya tau apa yang saya mau tapi ragu apa itu yang terbaik". 
Atau "saya tau apa yang saya mau tapi saya tidak punya keyakinan yang cukup kalau itu akan terwujud".
Jadi, daripada dianggap tidak berusaha atau pengecut, gampangnya tinggal bilang "saya gak tau mau apa".


Kuncinya cuma keyakinan dan usaha. Apakah kamu yakin itu yang kamu inginkan? 
Jika ya, maka akan ada aja kepikiran langkah yang harus diambil untuk memenuhinya. Seperti kata-kata yang sering disebut seakan sebuah mantra yaitu "there is a will, there is a way".


Dan pemenuhannya jelas butuh usaha. Yang jelas akan capek.
Ibarat petani harus capek dulu menanam dari bibit, tapi sekalinya tanaman itu tumbuh dan berbuah, akan terus menerus berbuah. Kalo uda berbuah dibiarin? Ya enggak, tetep harus dirawat kalau mau hasilnya terus berbuah. :)


So, kesimpulannya adalah "Tidak ada orang yang tidak tau apa yang mereka mau. Yang ada adalah orang tersebut tidak memiliki keyakinan yang kuat atas keinginannya dan tidak memiliki keyakinan yang kuat untuk mewujudkannya atau belum mengetahui cara untuj mewujudkannya".
Jadi, apa yang sungguh-sungguh kamu inginkan? :)



------------------------------ ****************************** ------------------------------


This late night suddenly I got insight. Well, insight can be received anytime and no matter where you are. Sometimes it comes with visual form. Sometimes it comes like a whisper to my mind and make me say "ah, I see".


But one thing I believe. It comes from God. That's called as wisdom. 
Doesn't mean I am better than other or more holy than other. 
I write it down because I think it might help and blessing others.


This insight will be short. I promise. 
Because I usually wanna write just some points and because I love to talk then I end up write so long. He he. My bad habit.


Well, today what I got is if someone tell you that they don't know what they want, actually they just say it to make is more simple.


Why I say so?
Because nobody in this world who don't know what they want!


Babies know what they want. What makes different is they can't talk yet. That's why they let you know what they want and communicating with you with crying.


What about kids? They know what they want. That's why we familiar with kid's wishlist, they can cry to get what they want and they can get upset when they don't get what they want.


Teenagers know what they want. That's why they go through rebellion stages. Because they try to get what they want in any ways.


They (babies, kids and teenagers) know what they want. They just still can't fulfill it by themselves. They are not earning yet so they can't buy things for themselves.
What about non material needs? Still, they needs other person to fulfill it. Let say love from parents, love from bestfriends, etc.


So,how come an adult can say that he/she don't know what he/she wants? 
It's a pattern from baby to adulthood that we know what we want. Why in this world an adult can say that he/she don't know what he/she wants?


I think, "I don't know what I want" can be explain as " I know what I want but I don't know how to make it happen" or "I know what I want but I'm not sure it's the best" or "I know what I want but I don't have enough faith that it will become true"


So, rather be called as a coward (because don't dare to do it) or lazy person (because don't give any effort or at least try something), it will be easier to say "I don'tknow what I want"


The key points are faith and effort.


The question must be "Are you sure that's what you really want?"
If yes, you can get any ideas to make it happen. Like the words that always been said like it's a magic spell "there is a will, there is a way".
And to fulfill it, you need effort. It really will cost you energy. You will feel tired.


Like a farmer that do planting from seeds. What it grow and be fruitful, it will continue growing fruits. And then, after it griw fruits, you just let it go? No! You still need to keep the maintenance to make sure it will keep growing fruits and not just fruits but a big healthy fruits.


So, the conclusions is "There is no person in this world that doesn't know what he/she wants. It just a way to tell you that they don't fave strong enough faith in what they want and don't have good enough faith in making it happen or still don't know how to make it happen".
So, what do you really want? :)

Insight 01 Juni 2017 | Wanna free from pain??

Start from 01 Jan 17, I written in both English and Indonesian. Please scroll down to read in English. Enjoy your reading!


Wah, sudah lama banget gak nulis! Huhuhu. Di satu sisi saya tetap merindukan menulis karena dengan menulis entah bagaimana, bisa menenangkan saya. Mungkin karena isi di kepala keluar ya, jadinya lebih enteng. Haha. Di satu sisi saya kesulitan membagi waktu yang sebenarnya sih lebih berupa alasan untuk tidak menulis. Hehe.

Belakangan ini menulisnya saya teralihkan ke menulis yang lain. Yup, skripsi! Kalau saya lihat secara garis besar, seharusnya skripsi tidak sesulit yang dibayangkan loh. Namun ya karena namanya juga penelitian ilmiah, ya isinya gak sembarangan dan butuh penelitian yang jelas memakan waktu dan tenaga. Eh, jadi curhat! Hahaha.

Beberapa waktu lalu dan lupa tepatnya kapan, saya kembali diingatkan beberapa hal. Dan saya pikir kenapa tidak saya tulis? Siapa tahu bisa membantu atau bahkan saya bisa mendapat masukan yang akan memperkaya pengertian saya juga. Berbagi tidak pernah membuat kita rugi toh? :)

Langsung saja saya bahas. Saya nulis 1 point dulu ya. Di posting selanjutnya akan saya tuliskan poin lainnya. :)


Alasan kenapa kamu belum terbebas dari rasa sakit


Berawal saat suatu hari saya pulang kantor dengan keadaan hati yang sedih dan marah. Lalu saya berpikir dan bertanya ke diri sendiri kenapa manusia jelas tahu dan sadar ada hal yang menyakiti hatinya dan jelas tau jalan keluarnya tapi tetap saja menggenggam hal tersebut dan berujung pada membuat dirinya sendiri semakin tersiksa?

Tiba-tiba, seperti biasa, saya dapat seperti sebuah visual atau peringatan yang saat itu terjadi saya merasa saya seakan ada di dimensi lain dan waktu berhenti sejenak. Well, itu yang selalu saya alami dan berujung saya tuangkan apa yang daya dapat tersebut di blog ini dan biasanya saya sebutnya "saya diingatkan". Mungkin begitu bentuk/cara penyampaian hikmat yang saya terima dari atas.

Oke, kembali ke topik. Saya teringat kembali dan seakan lagi menonton film dengan warna sephia bahwa saya dulu pernah belajar main gitar demi nilai musik di sekolah. Lalu, saya belajar langsung dengan senar string, bukan nilon. Bagi yang pernah belajar gitar dengan senar string pasti tahu kan rasanya? Jelas sakit! Kalau memencet senar nilon kan tidak sakit seperti memencet senar string.

Nah, setelah seharian gejreng itu gitar, ya capek lah saya. Rencana nonton tv dan tidur. Akhirnya saya lepaslah genggaman saya dari gitar, dan apa yang terjadi? Sakit banget!

Saya sadar kalau jari saya sakit saat memencet senar dan sakitnya juga gara-gara si senar. Tapi saat saya lepas jari saya, ternyata rasa sakitnya parah juga. Seperti saat baru mengalami sakit memencet si senar. Sampai saya cuci tangan, kasih es, sampe saya emut juga tuh jari! Dan akhirnya apa yang saya pilih? Saya memilih untuk memegang gitar dan menempatkan jari saya untuk menekan senar-senar itu lagi! Dan coba tebak apa yang saya rasa? Saya merasa sakitnya mereda. Padahal, saya tau dan sadar jari saya sakit akibat si senar, tapi saya malah bukannya melepaskan jari saya, malahan saya biarkan saja.

Itu gambarannya dan itu gambaran nyata pengalaman pribadi saya. Coba kita rangkum ya.

Saya tahu dan sadar agar jari saya membaik, saya perlu melepaskan cengkraman saya. Tapi malahan saya berakhir tetap memencet si senar dan saya sampai tertidur tuh masih meluk si gitar loh! Dan sekarang saya mengerti alasannya!

Saya tidak mau melewati proses bahwa saat kita mau bebas dari rasa sakit, kita harus melepaskan apa yang membuat kita sakit, dan proses melepasnya itu juga sakit!

Kita manusia, kita akan memilih sakit yang kita kenal. Itu masalahnya! Karena lebih familiar.

Saya sudah sadar akan rasa sakit saat jari saya harus memencet senar gitar dan saya sudah terbiasa akan rasa sakitnya selama seharian. Saya kaget akan rasa sakit di jari saya akibat saya melepaskan si senar walaupun saya tahu pada akhirnya saya akan terbebas dari sakit! Rasa sakit saat melepas si senar seakan jadi rasa sakit baru dan saya belum terbiasa dengan rasa sakitnya sehingga saya kaget dan memilih kembali ke rasa sakit yang saya kenal.

Kebayang gak sih, untuk sakit fisik yang sepele dan baru terjadi selama 1 hari (yang jelas kurang dari 24 jam) aja usaha untuk melepaskan rasa sakitnya aja segitu besar. Pengaruh rasa sakitnya sampai bisa membuat saya memilih untuk tetap di dalam sakit itu. Apalagi untuk lepas dari sakit hati? Luka batin, memori yang buruk, pemahaman yang salah, kepercayaan yang salah, jelas akan lebih sulit untuk melepaskan rasa sakitnya. Karena ada harga yang harus dibayar yaitu rasa sakit yang "baru", yang notabene berupa peralihan dari rasa sakit menuju bebas.

Jelas akan membuat kaget. Mungkin akan tercetus omongan "katanya dengan memaafkan bisa membuat saya pulih, tapi kenapa terasa begitu sakit? Enak saja dia menyakiti saya, saya yang menderita tapi saya yang harus memaafkan!"

Dari contoh kalimat itu dan cerita saya, sudah tau masalahnya?
1. Rasa sakit kita tanpa kita sadar berubah menjadi zona nyaman kita.
Kita terbiasa dengan rasa sakit itu dan sadar akan "sulit" untuk bebas sehingga kita memilih tetap menjaga rasa sakit itu

2. Ego kita yang menjadi penghalang kita dari kebebasan kita.
Dengan menyimpan sakit hati, maka tanpa kita sadar adalah seperti kita memegang pisau dan menusukkannya ke diri kita sendiri. Karena dengan tidak mau menurunkan ego, kita membiarkan kebencian atau sakit hati atau kemarahan menguasai kita dan kita menyiksa diri kita sendiri.

3. Reaksi kita yang menentukan.
Tanpa sadar, kita play victim. Gak sepenuhnya salah sih. Kita memang korban. Tapi bukan karena perbuatan orang ke kita. Kita adalah korban dari kebodohan kita sendiri. Apapun yang orang perbuat atau katakan kepada kita hanya akan berpengaruh kepada diri kita jika kita ijinkan. Segala hal buruk bisa terjadi, tapi kembali kepada reaksi kita yang menentukan berapa besar pengaruh dari luar bisa mempengaruhi yang di dalam kita.


Teman, pilihlah untuk bebas!
Jika kamu merasa tidak enak menjadi korban, lalu kenapa kamu menawan dirimu sendiri dalam penjara kesakitan? Walau kamu sudah terbiasa dan bahkan sudah jadi zona nyaman, tapi coba direnungkan, apakah itu zona aman yang kamu inginkan?

Well, saya harap saya bisa menjelaskan dengan baik melalui tulisan ini dan semoga bisa dipahami dengan baik.

Be free! Be happy! Be blessed and be blessing to others!

GBU!


--------------------------------------------********************************************* ------------------------------------------------


Wow, it's been a long time for me to not write in this blog. I miss to write because somehow I feel relax and calm because of writing. It is because my mind been released, I guess. So I feel more carefree. Ha ha. On the other hand, I have difficulty to maintain my time schedule and well, it more like excuses I made to not writing.

Lately I've been busy in writing other thing. Yup! It is a final paper for graduating and receive my bachelor degree. After I work on it, it is not as scary as I thought. But, because it is a scientific research, I can not fill my paper as I want. It needs research and sampling. Both of it need time and effort. Well, I talk non sense, huh? Ha ha.

Some time ago, I can not recall the exact time, I have been reminded a couple things. And I think why don't I write it down? It might help someone out there and perhaps I can get a wider wisdom from others. After all, sharing something will never make you loss. :)

Well, let's talk about it. In this post I write 1 point only. The others will be written on next post.


The reason why you still trapped in pain


It's all start when I was on my way home from office. I think and ask myself, why do people mostly know and conscious what they hold is what hurt them but still not willing to let it go and free themselves and end up they hurt their selves more in pain?

And suddenly, as usual, I got some kind of vision or reminder, and when I got it, I feel like I'm in other dimension and time froze. Well, it did happen to me every time I got something and I end up share it in this blog, I usually call it as "I have been reminded". Maybe it's the way I got some wisdom from above.

Ok, back to topic.
I am reminded. Got flashback like I am watching movies in black and white. The vision of myself learning and practicing acoustic guitar for school. And I learned using steel guitar strings, not nylon. For you who have been learning or practicing using steel guitar strings must be know how does it feel. It does really hurt! If I use nylon strings must be not that hurt!

After all day I learned guitar and night has come, I feel it is enough. I want to watch TV and have some rest. I let go the guitar and guess what I feel on my fingers? It is super hurt! It hurt badly.

I realize that my fingers hurt because of that steel guitar strings. I practice all day. But, when I let my fingers go, it hurt more than when my fingers still on it! It hurts like I just use that strings for first time. I washed my hands, I place ice cube on it. I even place my fingers in my mouth (and it hurts more because I need cold to stop the pain, not heat!)

And what I end up with? I chose to keep holding the guitar and place my fingers on the steel strings! Guess what I feel? I feel better!
The truth is I know and realize that the steel strings is the source of my pain and what I finally do is not releasing my fingers from it but I end up back on it!

That's the picture and it is really happened to me. Let's sum up!
I know and realize to heal my fingers I need to let go. But, I end up keep holding it and as I remember, I fall asleep while holding the guitar!

Now I understand the reason!

I don't want to go through the healing process because I realize that to free from pain, there is price to pay. To let go the pain source is hurting too!

We are human. And naturally we will choose the pain we familiar with. That's the problem!

I already know the pain from that steel guitar strings all day. I am quite shocked with the "new" pain because of letting my fingers free, even though I know the pain will fade away and I will be healed. I am not recognize the pain of letting my fingers free, I am not used to it, that's why I choose to go back to my old pain, the pain that I know well from holding those strings.

Can you imagine, for physical pain and it is a small pain that just occur in 1 day, need struggle to be free from it. The impact from the pain is powerful enough to make me choose to stay in that pain! Can you imagine the struggle and effort you need to heal from broken heart, bad memories, misunderstanding, or false belief? It is clearly will be more difficult to be free from it because there is price to pay which is the "new" pain but the truth is that pain is a discomfort because of transition from pain to be healed.

Definitely it will scared you. Maybe you will say "It said that by giving forgiveness can heal me, but why does it hurt? He/she hurt me, I am the one who suffer, but I am the one who should release forgiveness!"

From that sentence and from my story earlier, have you recognize the problem why you still in pain?1. Without you realize it, you pain is changing to be your comfort zone.
We used to that pain and we realize it will be "hard" to be free from it and we end up to keep that pain we know well.

2. Our ego is our stronghold between us and our freedom.
By keeping that pain, is like we holding knife but the one we stab is ourselves. Because of our ego, we let hatred or heartache or anger to control us and we actually torture ourselves with it.

3. Our reactions or the way we response is the most important.
Unconsciously we play victim. Well, not completely wrong. We are victim. But not because of what people do to us. We are victim from our stupidity. Whatever others do or say to us will be affect on us only if we allow it. All bad things can happen, but back to our way to response that will determine how big it's impact from outside to our inside.


Guys, choose to be free!
You know how does it feel to be a victim, then why you prison yourselves in prison of pain? Even you already used to that pain and it already become you comfort zone, please ponder, is it the comfort zone you really want to have?

Well, I hope I can explain it well.

Be free! Be happy! Be blessed and be blessing to others!

GBU!